Tuesday, October 15, 2013

Beranda » Ternyata, Si Dia Duda dan Punya Anak

Ternyata, Si Dia Duda dan Punya Anak

KOMPAS.com – Pada kencan kedua dengan si dia, Anda merasa telah menemukan pria idaman. Dia tak hanya tampan tapi juga mapan, bertanggungjawab, selalu membuat Anda merasa spesial, begitu mengayomi, sangat kebapakan. Eeeh... tunggu dulu, ternyata dia memang seorang bapak!

Jangan langsung panik saat si dia memberitahu Anda, bahwa statusnya adalah duda dengan anak. Mungkin Anda menganggap statusnya tersebut sebagai beban, tapi jangan gegabah dan langsung menjauh. Bukalah mata serta pikiran, tarik napas dan lapangkan hati. Sebab bisa jadi si dia dan anaknya, akan memberikan dinamika dan warna pada hidup Anda.

Tenangkan diri, mulailah dengan mengesampingkan semua cerita-cerita 'horor' yang pernah Anda dengar. Lupakan semua film, buku, atau serial televisi yang merefleksikan betapa menjengkelkannya berhadapan dengan anak pacar Anda. Berpikirlah positif, pengalaman buruk orang lain bukan patokan bagi  jalan hidup Anda.

Berikut beberapa panduan berkencan dengan pria berstatus duda :

 Awali dengan investigasi

"Cari tahu apakah sang anak diasuh oleh si dia atau mantan istrinya?" saran Lisa Bahar, terapis pernikahan dan keluarga di Orange County California. Apabila memang diasuh oleh si dia, tak perlu buru-buru minta bertemu jika belum siap, utarakanlah pada pasangan. Jangan pura-pura perhatian pada anaknya, strategi 'cari muka' tidak akan berhasil di kondisi seperti ini. Tetapi, apabila si dia sedang cerita atau berkeluh kesah mengenai buah hatinya, jadilah pendengar yang baik. Walaupun belum siap mengenal anaknya lebih dekat, setidaknya dengan mendengarkan bisa menjadi dukungan untuk si dia.

Jangan 'kepedean' segera dilamar

Hanya karena dia duda dan memiliki anak, bukan berarti dia ingin bergegas menikahi Anda. Seperti yang diungkapkan oleh Edwin Lyngar, mantan duda yang kini telah kembali menikah. Setiap dirinya memberitahu bahwa ia memiliki anak pada teman kencannya, pasti perempuan tersebut langsung memberikan tanda-tanda panik, khawatir Lyngar akan melamarnya untuk menjadi ibu bagi si anak. "Saya tidak pernah sekalipun memberikan sinyal ingin buru-buru menikah lagi. Prioritas dalam hidup saya adalah anak, 110 persen perhatian saya juga untuk anak. Dan saya anti memberikan perhatian pada pacar sebanyak kepada anak."

Jalani saja dulu, tetapi pelan-pelan

Lori Freson, pakar terapi pernikahan dan keluarga, merekomendasikan waktu yang tepat untuk bertemu dan berkenalan dengan sang anak adalah setelah tiga bulan menjalani hubungan, atau bahkan lebih. "Perempuan yang mengencani duda, harus yakin dulu dengan hubungan yang dijalani itu, apakah sudah benar-benar yakin pada si dia? Apakah komitmen terbilang stabil dan serius?"

Mungkin terdengar memerlukan ekstra waktu, tapi memang begitulah seharusnya. Jadi, kembali ke diri Anda sendiri. Bila pengorbanan dan usaha yang Anda lakukan sepadan dengan cintanya pada Anda, kenapa tidak? Tapi kalau belum siap dan merasa kurang yakin dengan si dia, sebaiknya urungkan niat ingin mengenal anaknya lebih dekat.

Momen pertemuan dengan sang anak

Setelah hubungan bergulir kian serius, Anda pun akhirnya bertemu dengan 'permata' hatinya. Ingat, jangan memaksa si anak untuk menyukai Anda, begitu juga sebaliknya, jangan memaksakan diri Anda untuk langsung akrab dengannya. "Berikan sikap yang bersahabat, perhatikan responnya pada Anda. Jika dia merupakan tipe anak yang supel dan menyenangkan, beruntunglah Anda. Tetapi, jika si anak tipe pendiam dan sulit akrab, ini tantangan bagi Anda. Tapi ingat lagi, biarkan semua mengalir, jangan memaksa."

Apakah sungguh-sungguh sudah yakin?

Saat hubungan dengan si dia semakin langgeng dan serius, bahkan topik pernikahan sudah beberapa kali dibahas.  Ini saatnya untuk melakukan kontemplasi diri, tanyakan pada diri sendiri apakah sudah siap menyandang 'gelar' ibu tiri? Menjadi ibu pada anak yang bukan darah daging sendiri bukan perkara mudah.

Pikirkan mengenai berbagai kemungkinan yang terjadi dan terburuk sekalipun. "Banyak perempuan mengaku, setelah dijalani ternyata tidak sesulit dan mengerikan yang mereka kira. Bahkan mereka merasa jauh lebih bahagia'' ujar Freson.  Lalu, hal lain yang patut dipertimbangkan adalah tak hanya Anda akan berbagi si dia pada anaknya, tapi juga pada sang mantan istri, yang kemungkinan besar masih berkomunikasi soal anak dengan si dia.

Patahkan mitos 'single dad'

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, saat kembali berkencan tidak semua duda terburu-buru ingin menikah kembali. Selain itu, redam juga prasangka bahwa duda fobia dengan komitmen. Tidak semua pria yang bercerai memiliki karakter serupa, entah memiliki anak atau tidak.

Seperti pengalaman pribadi Lyngar yang ditinggalkan oleh istri pertamanya, saat usia kedua anak mereka 3 dan 9 tahun. Setelah sudah siap melanjutkan hidupnya, Lyngar berkencan dengan istri keduanya selama empat tahun. "Saya jatuh cinta pada istri saya yang sekarang, karena dia melihat saya sebagai seorang pria, bukan pira yang pernah gagal menikah, duda atau seorang ayah. Dengan semangat yang ia tularkan pada saya, setiap hari ia menumbuhkan keyakinan dalam hati. Semua berjalan dengan baik, karena kami mengawalinya dengan kejujuran dan menjadi diri sendiri." tutur Lyngan. 

Sumber :

Editor :

Syafrina Syaaf


http://female.kompas.com/read/xml/2013/10/16/0804563/Ternyata.Si.Dia.Duda.dan.Punya.Anak