Thursday, October 31, 2013

Beranda » Saat di Ranjang, Sedikit Bicara Lebih Banyak Bercinta

Saat di Ranjang, Sedikit Bicara Lebih Banyak Bercinta

KOMPAS.com - Demi menyelesaikan bukunya yang bertajuk "The Secret Live of Wives: Women Share What It Really Takes To Stay Married", sang penulis Iris Krasnow mewawancara ratusan perempuan menikah. Lewat bukunya tersebut, Krasnow menyimpulkan banyak unsur yang bisa membuat pernikahan langgeng, atau 'karam' seiring ketokan palu Pak Hakim di Pengadilan Agama.

Dari hasil wawancara ratusan perempuan tersebut, hadir sebuah 'keseragaman' dari masing-masing jawaban, yaitu saat menjelang tidur, kira-kira setelah pukul delapan malam sebaiknya hindarilah obrolan dengan suami yang memicu emosi.

Mempertahankan kobaran asmara setelah menikah dan punya anak, merupakan tantangan tersendiri bagi banyak pasangan suami-istri. Beban kerja semakin tinggi, aktivitas harian kian padat, dan akhirnya lupa betapa pentingnya kualitas bercinta dalam menjaga keseimbangan suatu rumah tangga.

Dalam kondisi begini, sedikit salah bicara bisa berakhir petaka. Menjaga komunikasi memang baik, tetapi Anda juga harus cerdas dalam memilih bahan obrolan dengan suami. Kenapa? Supaya tidak memicu emosinya berubah menjadi 'perang dingin' sampai pagi. Bukankah lebih baik saling sentuh, daripada saling diam!

Simaklah tiga saran dari Krasnow yang akan membantu menjaga kehangatan pasangan suami istri, baca dan pahami ;

Setelah anak-anak tidur, saatnya menciptakan kehangatan

Umumnya anak-anak di usia sekolah, berangkat tidur di kisaran waktu jam delapan malam. Nah, pada seputaran waktu tersebut, pasangan suami-istri memiliki momen kebersamaan tanpa gangguan. Sebagai pasutri yang bijak, harap Anda ketahui, pernikahan itu tidak melulu dibangun dengan komunikasi dua arah yang efektif. Tapi juga pada kuantitas waktu dan kualitas ajang bermesraan di dalam kamar.

Krasnow mengaku, bahwa ia dan suami kerap berada pada kondisi tersebut. Namun, melihat 'gelagat' negatif dari ritual ini, Krasnow segera menghentikannya. Tanpa berlama-lama menunggu, Krasnow segera melakukan perubahan. Setelah dibicarakan, suaminya menuturkan bahwa saat terdekat dirinya dengan Krasnow adalah malam hari, di mana anak telah tertidur pulas di kamar sebelah. Jadi, dia menginginkan agar mereka sedikit berbicara dan lebih banyak berpelukan.

Jangan membicarakan soal krisis keuangan keluarga

Memang sih, uang bukan jalan keluar, tetapi uang bisa menjadi solusi. Berangkat dari pemikiran ini, Anda pun merasa bahwa kesulitan finansial yang sedang keluaraga Anda alami, harus segera diselesaikan secepatnya.

Sebenarnya di mana pun lokasinya, kalau topik yang diangkat adalah krisis keuangan, sudah pasti secara alamiah, emosi akan terpancing dan memancing kekesalan dengan pasangan. Dan seburuk-buruknya lokasi untuk membicarakannya adalah di atas ranjang.

Cobalah Anda dan suami berusaha ikhlas dan menerima penurunan finansial yang menjengkelkan ini. Tenangkan diri terlebih dahulu, siapa tahu ketika kepala dingin, niscaya ide-ide cemerlang untuk mencari solusi, bakal datang lebih mudah. Karena, memecahkan masalah lewat kompromi adalah 'kunci' yang akan membuat segalanya jadi lebih baik dari sebelumnya.

Ingatkan suami akan 'api-api' cinta di masa muda

Pasangan yang telah menjalani pernikahan selama bertahun-tahun, menganggap semua yang dilakukan bersama pasangan, semata hanya rutinitas saja. Lalu, tanpa tersadar, Anda berdua berubah menjadi pasangan yang dingin dan tidak terlalu peduli satu sama lain.

Ingatkan kembali suami pada masa-masa pacaran dahulu, dengan ciuman yang 'menyapu' pada kedua pipinya, dan jangan lupa kecupan pertamanya yang membuat Anda tersipu-sipu dulu. Hidupkan kembali segala yang mendebarkan di masa lalu, sentuhan penuh gugupnya di malam pertama. Malam nanti, 'sajikan' lagi agar suami teringat betapa Anda berdua pernah begitu bergairah. 

Sumber :

Editor :

Syafrina Syaaf


http://female.kompas.com/read/xml/2013/10/31/2308048/Saat.di.Ranjang.Sedikit.Bicara.Lebih.Banyak.Bercinta