Friday, July 26, 2013

Parade Tenun yang Sudah Menjelajah Dunia

KOMPAS.com - Eksplorasi kain tenun seakan tak ada habisnya. Apalagi dengan kekayaan tradisi di Indonesia. Yang biasanya hanya melekat sebagai kain sarung, ternyata juga menarik ketika dijadikan mini dress, blus, rok, hingga gaun malam.

Setidaknya begitulah nuansa yang hadir ketika empat desainer yang diusung Cita Tenun Indonesia kembali menggelar parade busana rancangan mereka dalam gelaran "Ramadhan In Style", yang bertempat di Lamoda, Plaza Indonesia, Jakarta Kamis (25/7/2013) lalu. Beberapa koleksi sudah pernah ditampilkan di New York, Paris, Tokyo, hingga Wina, Austria.

Empat desainer yang unjuk koleksi itu adalah Denny Wirawan, Auguste Soesastro, Ari Seputra, dan Chossy Latu. Keempatnya digandeng CTI untuk mengeksplorasi kain tenun potensial dari berbagai daerah di Indonesia.

Denny mengolah kain tenun palembang, Auguste menggabungkan tenun dari Garut, Bali, dan Sambas, Ari Seputra mendalami kain tenun lombok, lalu Chossy Latu menjadikan tenun palembang tampil lebih modis dan enak dilihat.

Satu per satu karya rancangan empat desainer ini diperagakan dalam show eksklusif yang digelar Plaza Indonesia bersama Cita Tenun Indonesia. Denny menampilkan lima set koleksi tenun palembang olahannya yang didominasi warna-warna tanah, beige, khaki, yang menurutnya terinspirasi dari padang savana.

Beberapa item dari koleksi Denny tersebut baru saja dipamerkan di Japan Fashion Week International Fair di Tokyo. Menurut dia, olahan tenun dibuatnya menjadi lebih mudah dipakai dan dipadupadankan. Tidak tertutup kemungkinan juga bagi perempuan muslim yang bisa menambahkannya dengan seledang atau bahan tertutup.

"Beberapa koleksi yang saya tampilkan masih kuat dengan ciri khas saya, yakni berupa jaket, blazer, dan bolero," ujar Denny menambahkan.

Berbeda dengan Denny, Ari Seputra mengolah kain tenun lombok dengan bermain-main pada motifnya. Kata dia, ada beberapa motif asal Lombok yang sangat khas dan menarik untuk diolah. Di antaraya motif Subhanallah, yang bersegi enam dengan dominasi warna hitam dan putih. Ada juga Pucuk Cemara, burung merak yang disebut Keker, dan di bagian tertentu menggunakan Sabuk Anteng.

Untuk menjadikannya berkesan modern, Ari membuat potongan origami yang simpel. Untuk bahan, ia mengkombinasikan motif dengan kain polos sehingga menjadi lebih menarik. Di antara koleksi kain tenun Ari ini, ada yang pernah tampil dalam parade show yang digelar Summarecon dan Garuda tahun lalu di Jakarta.

Gagasan menjadikan tenun agar lebih mudah dipakai juga diaplikasikan Auguste. Desainer yang baru saja tampil di New York ini membuat kombinasi tenun dari Garut, Sambas, Bali, dan Palembang.

"Supaya tenun tampil lebih modis, saya membuatnya tidak begitu mencolok," ujarnya meyakinkan.

Auguste menampilkan lima set olahan tenunnya yang antara lain berupa jumpsuit yang mirip dengan yang dikenakan oleh Maudy Koesnady saat tampil di Festival Film Cannes. Secara keseluruhan koleksi Auguste sangat mengesankan, karena minimalis tapi elegan.

Sementara, Chossy Latu, mengolah tenun palembang menjadi beberapa outfit yang tiba-tiba mencuri perhatian. Tanpa aksen prada yang keemasan, kain tenun itu tampil dengan potongan yang modis dan enak dilihat. Ada mini dress, blus yang dipadupadan dengan blazer, dan permainan warna polos dan motif yang pas. Bersama CTI, koleksi tenun Chossy pernah tampil juga di Wina Austria.

Parade hari itu makin menegaskan betapa kain-kain tenun dari berbagai daerah di Indonesia sangat berpotensi menjadi busana yang menarik. Apalagi di tangan desainer yang tepat, tenun bakal menjadi pilihan berbusana yang berkelas. Dalam waktu dekat siapa tahu akan menjadi populer, tak lagi berkesan berat.

Editor :

Felicitas Harmandini


http://female.kompas.com/read/xml/2013/07/26/1505295/Parade.Tenun.yang.Sudah.Menjelajah.Dunia