Sunday, February 27, 2011

Babi itu kan haram untuk semua umat Islam saja



”Pak kyai, sebagai non muslim, saya suka bertanya-tanya, Islam itu suka ngada-ngada ya?”, seorang dengan penampilan khas tiba-tiba menghadang kyai, lepas kyai memberikan ceramah.

”Ngada-ngada bagaimana?”, kyai heran. Kok bisa-bisanya ada orang tanpa permisi maen nyelonong kaya begitu. Mancing-mancing lagi.

”Babi kan diharamkan dalam Islam”, orang itu menangkap ceramah kyai soal keharaman babi. Rupanya orang ini memang punya niat melempar masalah, bukan sekedar mancing-mancing.

”Betul”, kyai menanggapi adem.

”Tapi kok, Allah yang mengharamkan babi, malah nyiptain babi? Ini kan buang-buang energi namanya. Sudah
diharamkan, diciptakan juga”, orang itu segera menumpahkan isi hatinya. Wah, reseh nih orang kata kyai dalam hati.

”Kan larangan makan babi memang untuk orang Islam”, kyai masih anteng menanggapi tanpa ekspresi.

”Tapi kan yang nyiptain babi tuhannya orang Islam”, orang ini seolah bernafsu menekuk kyai dengan cecaran jurus-jurus silat lidahnya yang masih kelihatan kaku. Mungkin sedang nyoba ilmu.

”Loh, memang tuhan sampeyan engga bisa bikin babi?”, kyai mulai pasang kuda-kuda dan melempar jurus dasar.

”Bisa. Tapi sudah cukup diwakili tuhannya Kyai”, orang itu mampu berkelit.

”Oooo begitcuuuu”, kyai mundur sedikit. Otaknya mulai bekerja lebih serius.

”Iyaaa laaaah, ngapain cape-cape kalo ada yang bisa menyediakan fasilitas”, orang ini semakin mengumbar jurus porovokasi. Pede sekali dia. Saking pedenya, disangkanya dia pasti akan berhasil melumpuhkan otak kyai kampung itu. Dia belum sepenuhnya tahu, kyai memang orang kampung, tapi otaknya seperti lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir. Mesir yang sekarang lagi banyakj demo anti Husni Mubarak.

”Trus, apa aja yang dibikin tuhan sampeyan”, clingngng!, tiba-tiba lampu bohlam di dalam kepala kyai menyala. Teraaang banget. Kaya Philips 100 watt.

”Banyak laaah”., begitu confident.

”Apakah sampeyan diciptakan oleh tuhan sampeyan”, kyai kembali mengeluarkan jurus dasar.

”Ooo pasti. Manusia itu lebih mulia dari apapun. Apalagi dibanding babi. Makanya tuhan saya engga menciptakan babi, tapi memilih menciptakan manusia”, orang itu menangkis berlebihan. Jurus dasar kyai diladeni dengan jurus level empat.

”Apakah isteri sampeyan juga diciptakan tuhan sampeyan?”, kyai masih tidak beranjak dari jurus dasar.

”Isteri?... ohh, maaf saya tidak menikah”, nah, kali ini orang itu terperosok. Kakinya nyangkut celananya sendiri.

”Kalo soal nikah atau tidak, itu urusan sampeyan. Maksud saya apakah wanita juga diciptakan tuhan sampeyan?”, kyai tahu sekarang. Bohlam di kepalanya makin terang.

”Iya laaaah, wanita juga kan manusia”, tidak disadari, pertahanan orang itu makin kendor. Kuda-kudanya mulai goyah karena lepas kendali.

”Tapi, mengapa sampeyan tidak menikah?”, telak. Kyai memutar balik kata-kata orang itu. Ibarat pedang ditangan orang itu, ditekuk kyai mengarah ke dadanya sendiri.

”Dalam agama saya, saya adalah manusia suci dan dalam posisi yang tidak dibolehkan menikah”, orang itu masih menyimpan sisa-sisa keberaniannya. Dia tidak sadar bahwa perlawanannya sedikit lagi akan berakhir.

”Mengapa begitu?”, kyai menguras tenaga orang itu dan memancingnya semakin berani.

”Agar saya tetap fokus melayani tuhan”, orang itu makin tersudut, tapi masih belum nyadar bahwa ia tersudut.

”Tapi mengapa tuhan sampeyan membuat wanita, padahal sampeyan sendiri tidak boleh menikah. Melarang menikahi wanita, malah nyiptain wanita. Ini kan buang-buang energi namanya”, umpan terakhir diberi kyai.

”Eit, sabar kyai, itu berlaku hanya untuk saya. Yang laen tidak. Silahkan menikah. Kalo babi kan haram untuk semua orang Islam”, tamat.

”Lhaa ... ya sudah. Babi itu kan haram untuk semua umat Islam saja, yang laen tidak. Silahkan makan babi kalo emang doyan. Wong babinya aja kaga protes dijadiin sebagai babi haram!”.

Keh keh keh keh.,.,